Dari Generalis ke Spesialis

Jika Anda berada di suatu wilayah, yang cari apa saja sulit, maka jualah apa saja, bukalah toko kelontong. Sudah menjadi hukum alam, jika toko kelontong Anda laris, maka akan memicu ‘tetangga’ untuk membuka toko kelontong serupa.

Apa pilihan Anda? Membuka cabang, mengepung dengan puluhan cabang toko kelontong atau besarkan menjadi supermarket?

Tapi hukum dasar komoditas tetap berjalan. Bisnis yang gampang dibuka, apalagi (saat itu) untung besar, maka pesaing pun akan bertumbuhan. Jika branding tak kuat, harga pun banting-bantingan.

Pilihan lain adalah naik level, larilah ke hulu, “Biarkan mereka jadi raja, Anda jadi dewa”. Apapun supermarket, minimarket atau toko kelontongnya, Andalah distributornya. Sedaap..!

Bagaimana jika Anda adalah pendatang yang ‘baru lahir’ dan mendapati kompetisi sudah telanjur gila-gilaan? Larilah ke spesialis. Jualah 1 macam produk saja (dahulu), ‘kunci’ branding-nya.

Serupa dengan perjalanan Bisnis Kuliner..

Era Rumah Makan ‘nano-nano’, yang menjual apa saja sudah lewat, karena menjamur. Apalagi dipicu dengan pola cari (konsumen) di google:
“Kuliner Semarang” atau “Makanan Khas Semarang”,
akankah rumah makan ‘generalis’ atau ‘spesialis’, seperti Tahu Pong, Tahu Gimbal, Soto Kudus, Nasi Ayam, Bakmi Jowo, Lekker, Lunpia, Es Puter, Bandeng Presto, Wingko Babad, yang menang? ‪

Saat Anda memasuki restoran yang menjual apa saja, apakah ini yang biasa Anda tanyakan:
“Disini apa yang spesial atau khas?”. Sudah jelas kah?

Kata Kunci produk unggulan

Coba deh plesiran ke Semarang, apalagi di malam hari, maka akan memperjelas apa yang saya tuliskan. Sebisa mungkin, jadilah yang pertama mempopulerkan suatu produk.

Pertama mempopulerkan, bukan berarti yang pertama membuat/menjual

Cara gampangnya, cari suatu produk yang sudah eksis puluhan tahun hingga sekarang, tapi belum ada ‘merek’ yang terkenal. Itulah yang disebut Pasar Potensial, dalam buku Buka Langsung Laris. Banyak produk yang ngangenin, tapi mereka ‘lalai’ memberikan merek dagang (terdaftar) pada produknya, bukan nama jalan atau penjual yang tak terdaftar.

Dari jual apa saja, menjadi jual satu saja, atau populerkan satu saja. Setelah laris dan ramai, silakan tambahkan varian produk lain, tapi jangan mengubah merek dagang Anda dengan ‘generalis’ lagi.

Gado-Gado Boplo, tak hanya menjual gado-gado.
Sate Khas Senayan, juga ada nasi kuning, lontong cap go meh.
Bandeng Juwana, juga menjual oleh-oleh lainnya.

Meski demikian, menjual satu macam pun, cukup untuk 7 generasi. Terbukti..!!

Tak usah takut dengan para ‘follower’, justru mereka yang membantu memperluas pasar dan ‘mengerek’ popularitas merek Anda sebagi pionir.

Artikel ini bersumber dari Yukbisnis Indonesia

Have your say